Minggu, 21 September 2008

Single-vendor vs Multi-vendor

Mana yang lebih baik?

Jawabannya akan lebih jelas jika sebelum memilih single-vendor atau multi-vendor organisasi membuat pertimbangan-pertimbangan yang tidak hanya ditinjau dari internal organisasi tetapi juga dari vendor yang akan diajak bekerjasama seperti dana yang dimiliki organisasi, ketersediaan personil yang akan mengelola, scaling terkait pengembangan teknologi di masa datang (ditinjau dari biaya yang harus dikeluarkan dan batasan pengembangan), kualitas dan track record vendor, dan pertimbangan-pertimbangan lainnya.

Beberapa organisasi/perusahaan besar memiliki modal/finansial dan staf TI sebagai sumber untuk memilih strategi multi-vendor. Berdasarkan pendekatan ini, perusahaan dapat memilih infrastruktur TI dalam hal ini hardware maupun software dari berbagai vendor yang terbaik di bidangnya dengan tetap memperhatikan persoalan integrasi [1].

Sementara itu untuk organisasi/perusahaan kecil mempercayakan hampir sebagian besar infrastruktur TI yang digunakan di perusahaannya pada single-vendor. Hal ini terkait dengan keterbatasan modal/finansial untuk membeli dan memelihara pengembangan TI organisasi. Selain itu, terkait pula dengan terbatasnya jumlah staf IT dengan pengalaman dan keterampilan yang dibutuhkan untuk memelihara infrastruktur TI. Namun dengan menggunakan single-vendor untuk keseluruhan infrastruktur TI akan membuat organisasi/perusahaan akan terikat pada vendor tersebut. Ikatan ini akan memberatkan perusahaan apabila suatu waktu vendor meningkatkan biaya untuk pengadaan maupun pemeliharaan infrastruktur TI terhadap organisasi/perusahaan yang telah lama melakukan ikatan bisnis.

Permasalahan yang timbul dalam penerapan single-vendor dapat diselesaikan dengan menerapkan strategi multi-vendor yang memberikan keuntungan, antara lain:
  1. Keleluasaan untuk memilih vendor. Tidak seperti strategi single-vendor yang mengharuskan perusahaan untuk menyesuaikan diri dengan pola pikir pengembang dalam hal ini vendor, strategi multi-vendor memberi kuasa kepada perusahaan untuk dengan leluasa memilih vendor. Strategi pengembangan hendaknya dibangun berdasarkan open standard‐based solution untuk menyesuaikan dengan visi bisnis dan kemungkinan untuk pengembangan di masa datang serta untuk melahirkan persaingan bisnis yang lebih kuat.
  2. Memberi solusi pemeliharaan yang lebih baik. Selama infrastruktur TI menjadi komponen vital bagi keseluruhan strategi bisnis, perusahaan tidak harus dengan terpaksa mengorbankan satu area dari infrastruktur TI untuk hal lain yang lebih sederhana dikarenakan adanya portfolio produk vendor yang mengatur pembatasan tuntutan/permintaan. Single-vendor membuat sebuah perusahaan untuk settle dengan apa yang telah ditawarkan vendor, sebaliknya multi-vendor memungkinkan solusi pemeliharaan yang lebih fleksibel untuk mengoptimalkan pengembangan perusahaan.
  3. Keleluasaan yang mengarah pada inovasi. Sebagai contoh jaringan sebuah perusahaan dibangun menggunakan open standard, perusahaan memiliki kemungkinan untuk mengadopsi solusi baru yang disesuaikan dengan perkembangan bisnis dan kebutuhan perubahan, atau solusi baru dan yang telah diperbaiki untuk dapat dipergunakan. Strategi multi‐vendor memiliki sifat seperti strategi open‐standard, yang mana vendor harus terus menerus melakukan inovasi untuk melahirkan keuntungan dari kompetisi dengan vendor lain, menjalankan kemajuan-kemajuan baru yang menghasilkan solusi lebih baik.Sebuah single-vendor dengan portfolio produk yang luas dan beragam pada dasarnya akan selalu mempunyai produk yang ketinggalan dari lainnya terutama pada alokasi sumber, siklus produk yang berbeda, dan fokus pengembangan. Lebih lagi, single-vendor mengakibatkan pembatasan bagi vendor pesaing untuk masuk dalam sebuah perusahaan meskipun mereka menawarkan solusi yang lebih baik. Sedangkan multi‐vendor yang berdasarkan pada open standard memungkinkan bagi perusahaan untuk mengadopsi inovasi-inovasi terbaru yang didukung oleh sifat fleksibilitas multi-vendor.
  4. Pengurangan resiko dan biaya. Ketergantungan pada single-vendor akan melahirkan resiko yang berarti bagi perusahaan pada saat terjadi kerusakan/kegagalan sistem, pemutusan layanan maupun terhadap kenaikan harga sewaktu-waktu, dengan multi‐vendor apabila terjadi kerusakan/kegagalan sistem dan pemutusan layanan organisasi/perusahan dapat beralih kepada vendor lain. Sedangkan terkait penaikan harga, organisasi dapat beralih ke vendor-vendor lain yang dapat memberi produk yang terbaik dan harga bersaing.
  5. Mempengaruhi keahlian perusahaan. Tidak ada vendor yang mengerti bisnis dan infrastruktur yang dibutuhkan perusahaan sebaik staf teknis perusahaan. Dengan menggunakan single‐vendor untuk seluruh infrastruktur TI sama saja dengan kita memberi kewenangan kepada pihak untuk mengontrol dan mengendalikan perusahaan. Dengan multi‐vendor dapat dipastikan bahwa Anda adalah pemegang kuasa atas infrastruktur perusahaan dengan memberikan kuasa untuk memilih dan menentukan solusi berdasarkan strategi bisnis perusahaan, bukan vendor.
  6. Dukungan secara khusus. Saat ini dengan semakin kompleksnya kebutuhan infrastruktur TI dibutuhkan dukungan teknis yang dari seorang yang ahli dalam bidang tertentu. Karena single-vendor dirancang dengan portfolio produk yang luas dan didukung oleh seseorang dengan mengurangi kedalaman untuk keluasan pengetahuan, sehingga untuk menemukan orang yang tepat dengan solusi yang benar akan memakan waktu, organisasi/perusahaan tidak perlu kehilangan waktu jika memiliki infrastruktur yang mendukung operasional perusahaan. Multi‐vendor memastikan bahwa perusahaan didukung oleh tenaga ahli yang memiliki keahlian sesuai dengan yang dibutuhkan untuk memecahkan persoalan dengan efektif dan meminimalisir pengaruh yang dapat mengganggu organisasi [2].

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa multi-vendor memberikan keuntungan dan fleksibilitas bagi perusahaan yang tidak hanya ditinjau dari biaya yang harus dikeluarkan organisasi tetapi juga terhadap kelangsungan operasional bisnis perusahaan.

Jika dikemudian hari saya diminta untuk memberi pertimbangan mana yang harus dipilih single-vendor atau multi-vendor tentunya saya akan mereferensikan multi-vendor dengan pertimbangan-pertimbangan seperti yang diuraikan di atas.


Referensi:

[1] Goliath Business Knowledge On Demand, "The Main Event: Best-of-Breed vs. Single-Source,“ June 2003, http://goliath.ecnext.com/coms2/gi_0198-133247/The-Main-Event-Best-of.html.

[2] Foundry Network, “Leveraging the Advantages of a Multi-vendor Network Strategy White Paper,” January 2008, http://www.foundrynet.com/pdf/wp-advantages-multi-vendor-network.pdf.


Penulisan referensi mengikuti IEEE style yang ada di http://www.ece.uiuc.edu/pubs/ref_guides/ieee.html.


Tugas Kuliah Keamanan Jaringan Lanjut

Dikerjakan oleh:

Tutin Giyani

NIM. 23208092


Kamis, 18 September 2008

Posting Pertama

Hello....
Welcome 2 my 1st blog....